GILANGKAMBING

Hari yang apa adanya. Pandangan yang sederhana. Logika yang bersahaja.

Compleanno

Sekurang-kurangnya sudah 9 jam saya berada di usia yang baru ini. Semalam tadi beberapa saat setelah si pacar telfon untuk menunaikan kewajibannya sebagai pacar mengucapkan selamat dan doa-doa yang bagus-bagus saya duduk di sisi kasur yang untuk tidur itu untuk berdoa juga buat diri sendiri, bukan karena tidak percaya oleh doa orang lain tapi supaya tidak dikira sombong oleh Tuhan. Lalu saya berdoa : Ya Allah semoga semua doa-doa yang baik untuk saya Kau kabulkan. Begitu kira-kira.

Lalu saya tidur lagi.

Dan barusan pagi, seperti biasa setiap tahunnya. Orang-orang rumah sudah stand-by di tengah rumah dengan kue yang diatasnya sudah ada lilin menyala-nyala angka 2 dan angka 3. Dua puluh tiga. Ehm. Lalu disitu saya seolah-olah sedang tidak menyangka, seakan-akan kaget diberi surprise oleh mereka hanya supaya mereka tidak harus kecewa karena sudah menyiapkan itu semua dari subuh (mungkin). Lalu kami bernyanyi, bertiup lilin, dan berselamat.

Dampak psikologis dari lilin angka 2 dan angka 3 adalah ketika dua puluh dua, saya masih merasa muda karena tidak begitu jauh dari dua puluh. Tapi dua puluh tiga rasanya lebih dekat ke dua puluh lima dan semakin jauh dari dua puluh. Beban. Kedewasaan bukan lagi masalah pilihan tapi tuntutan.

Apapun itu saya berharap di dua puluh tiga ini semoga semua hal yang belum saya capai supaya terwujud jika itu memang yang terbaik menurut Dia Sang Maha Rencana. Amin.

Kurang ajar! Selalu saja dia punya cara, untuk bisa membuat aku mencintainya. Merepotkan

—Pidi Baiq (via miraaf)

When we were in love, things were better than they are.

—The Maine - Into Your Arms

Perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah, bila habis itu saling lupa.

Tenang, The Panasdalam (via kucinggendut)

perbedaan itu biasa, asal jangan membedakan

—gilangkambing

bigbadbey:

at least si diwan ngaku yah kang!

bigbadbey:

at least si diwan ngaku yah kang!

nurrohman:

ini salah satu isi dari buku kenangan-kenangan :)

nurrohman:

ini salah satu isi dari buku kenangan-kenangan :)

Singgasana

teringat masa lalu dan orang-orang di dalam nya. mereka kawan, sahabat, saudara lama yang sekarang sudah jarangnya kita bertemu. karena sibuknya kamu-kamu dan sok sibuknya saya. teringat jaman dulu jaman kita setiap sabtu malam reflek berangkat ke rumah kawan kita yang maulidinni untuk kita bertemu, bercerita, berdebat, sampai subuh sampai belum puas . untuk membuka botol hijau kemudian berdebat lagi sampai subuh sampai tidak puas lagi. sudah ratusan bungkus rokok menemani kebersamaan kita dulu.

ingat deretan sofa merah di teras yang kita namai “SINGGASANA”?

ingat kita pernah terdoktrin novel “5 cm” dan “meng-kisah nyata-kan” nya?

dari jaman emo, celana ketat, hp n-gage, lab bahasa, razia rambut, paket goceng popeye, mabal ke ciwidey, iman busiat, sampai video kelas. semua nya mengingatkan saya pada kalian, pada masa-masa SMA, dua belas ips satu, putih-abu yang sudah berlalu.

sedikit banyak disinilah karakter saya terbentuk, sedikit banyak mereka lah yang membentuk saya menjadi saya.

saya pun sadar, adalah kita sudah jarang berkumpul seperti dulu. yakini ini lah sebuah fase, sebuah masa peralihan kita dari seolah dewasa ke benar-benar dewasa. setengah dari kita sudah merasakan dunia kerja, beberapa ada yang masih berkuliah, ada yang berdagang, bermusik, berjuang skripsi, keluar negeri, sampai yang berdiam diri.

semakin menyusut dan terberai kumpulan singgasana ini. saya pikir tidak apa-apa asal bukan persaudaraan nya yang menyusut.

ulin deui ah barudak!

I want to remember what I know. That I can’t go back

(Taking Back Sunday - New American Classic)