Compleanno
Sekurang-kurangnya sudah 9 jam saya berada di usia yang baru ini. Semalam tadi beberapa saat setelah si pacar telfon untuk menunaikan kewajibannya sebagai pacar mengucapkan selamat dan doa-doa yang bagus-bagus saya duduk di sisi kasur yang untuk tidur itu untuk berdoa juga buat diri sendiri, bukan karena tidak percaya oleh doa orang lain tapi supaya tidak dikira sombong oleh Tuhan. Lalu saya berdoa : Ya Allah semoga semua doa-doa yang baik untuk saya Kau kabulkan. Begitu kira-kira.
Lalu saya tidur lagi.
Dan barusan pagi, seperti biasa setiap tahunnya. Orang-orang rumah sudah stand-by di tengah rumah dengan kue yang diatasnya sudah ada lilin menyala-nyala angka 2 dan angka 3. Dua puluh tiga. Ehm. Lalu disitu saya seolah-olah sedang tidak menyangka, seakan-akan kaget diberi surprise oleh mereka hanya supaya mereka tidak harus kecewa karena sudah menyiapkan itu semua dari subuh (mungkin). Lalu kami bernyanyi, bertiup lilin, dan berselamat.
Dampak psikologis dari lilin angka 2 dan angka 3 adalah ketika dua puluh dua, saya masih merasa muda karena tidak begitu jauh dari dua puluh. Tapi dua puluh tiga rasanya lebih dekat ke dua puluh lima dan semakin jauh dari dua puluh. Beban. Kedewasaan bukan lagi masalah pilihan tapi tuntutan.
Apapun itu saya berharap di dua puluh tiga ini semoga semua hal yang belum saya capai supaya terwujud jika itu memang yang terbaik menurut Dia Sang Maha Rencana. Amin.

